Antisipasi Serangan Siber Pada Sektor Perbankan

Share

Wednesday, 10 August 2022

Industri perbankan di Indonesia terus bertransformasi dengan memanfaatkan teknologi digital. Di sisi lain, seiring berjalannya transformasi digital, risiko bisnis juga terus meningkat. Berdasarkan data yang diolah oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pada sepanjang tahun 2021 terdapat 1,6 miliar kasus serangan siber di Indonesia. Jumlah tersebut naik tiga kali lipat bila dibandingkan dengan data tahun 2020 yang hanya 495 juta kasus serangan siber. Dari jumlah tersebut, 21,8 persen telah menyerang sektor keuangan atau perbankan. Menurut OJK, industri keuangan atau perbankan merupakan sektor yang menjadi peringkat pertama mendapatkan serangan siber.

OJK memiliki regulasi keamanan siber berupa 4 pilar utama yang harus dilakukan oleh sektor perbankan untuk mengantisipasi serangan siber, diantaranya sebagai berikut:
1. Melakukan pengawasan aktif direksi dan dewan komisaris
2. Kecukupan kebijakan, standar dan prosedur penggunaan
3. Proses menajemen risiko terkait TI
4. Sistem pengendalian dan audit intern atas penyelenggaraan TI

Selain itu, literasi digital pada nasabah juga menjadi kunci saat ini untuk mencegah serangan siber pada nasabah. Para peretas mengincar lapisan terlemah dalam ekosistem perbankan digital yaitu nasabah. Oleh karena itu literasi digital masyarakat harus terus ditingkatkan oleh seluruh pemangku kepentingan. Apabila kurang waspada, bisa jadi nasabah akan menjadi korban karena terjebak pada penipuan orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai bentuk antisipasi, nasabah juga diminta untuk terus waspada dengan aktivitas anomali pada ponsel, tidak menyebarluaskan nomor telepon pada media sosial, password yang sama juga tidak boleh digunakan pada banyak aplikasi dan tidak menyampaikan OTP ataupun PIN kepada pihak lain termasuk pihak bank. Cek disini jenis-jenis kejahatan siber pada sektor perbankan!