Brute Force Attack Adalah: Mengenal Metode Serangan yang Berbahaya dalam Keamanan Digital

Share

Thursday, 22 June 2023

Brute Force Attack adalah salah satu teknik yang digunakan oleh para penyerang dalam upaya untuk mendapatkan akses ke sistem atau informasi yang dilindungi. Dalam serangan ini, penyerang mencoba semua kemungkinan kombinasi password atau kunci enkripsi hingga menemukan yang benar. Pada artikel ini, kita akan membahas secara rinci tentang Brute Force Attack, bagaimana cara kerjanya, serta langkah-langkah untuk mencegah serangan ini.

Apa yang dimaksud brute force attack

Sumber: Cyberhoot

Brute Force Attack merupakan metode serangan yang memanfaatkan kekuatan komputasi untuk mencoba semua kombinasi yang mungkin dari suatu entitas, seperti password atau kunci enkripsi, hingga menemukan yang benar. Penyerang menggunakan program komputer yang otomatis memeriksa setiap kombinasi secara berurutan sampai menemukan yang valid. Hal ini berarti bahwa serangan brute force adalah pendekatan yang rumit dan memakan waktu.

Pada serangan Brute Force, penyerang menggunakan program yang disebut brute forcer untuk mencoba semua kemungkinan kombinasi secara berurutan. Ini dapat dilakukan dengan mencoba semua karakter, angka, huruf kecil, huruf besar, dan simbol khusus. Proses ini dilakukan secara terus menerus hingga password atau kunci yang valid ditemukan. Semakin kompleks kombinasi tersebut, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan hasilnya.

5 Jenis-jenis brute force attack

Menurut Fortinet, terdapat beberapa jenis serangan Brute Force Attack yang umum digunakan oleh penyerang. Di antaranya adalah:

  1. Simple Brute Force Attacks

Simple Brute Force Attacks adalah jenis serangan Brute Force yang paling sederhana. Dalam serangan ini, penyerang secara langsung mencoba semua kemungkinan kombinasi password atau kunci enkripsi secara berurutan. Serangan ini memerlukan waktu yang lama untuk berhasil karena harus mencoba setiap kemungkinan secara berurutan. Namun, jika password atau kunci yang digunakan lemah, serangan ini dapat berhasil dalam waktu yang relatif singkat.

  1. Dictionary Attacks

Dictionary Attacks adalah jenis serangan Brute Force yang menggunakan daftar kata-kata yang umum digunakan atau daftar password yang telah ada sebelumnya. Penyerang menggunakan daftar ini untuk mencoba setiap kata atau password secara berurutan. Jika password yang digunakan termasuk dalam daftar, serangan ini dapat berhasil dengan cepat. Untuk mencegah serangan ini, pengguna disarankan untuk menggunakan password yang kuat dan tidak termasuk dalam daftar kata-kata umum.

  1. Hybrid Brute Force Attacks

Hybrid Brute Force Attacks menggabungkan metode Brute Force dengan teknik lain, seperti penggabungan kata-kata dan simbol, penggabungan karakter acak, atau penggabungan karakter dengan pola tertentu. Penyerang menggunakan algoritma yang kompleks untuk mencoba semua kombinasi yang mungkin dengan variasi tersebut. Dengan menggunakan metode ini, serangan Brute Force dapat menjadi lebih efisien dan berhasil dalam waktu yang lebih singkat.

  1. Reverse Brute Force Attacks

Reverse Brute Force Attacks merupakan serangan yang berbeda dari jenis serangan Brute Force konvensional. Pada serangan ini, penyerang memiliki informasi target yang ingin mereka retas, seperti username atau alamat email. Mereka kemudian mencoba kombinasi password yang berbeda untuk mencocokkan dengan informasi target tersebut. Serangan ini memungkinkan penyerang untuk mencoba password yang sama pada banyak akun atau target yang berbeda.

  1. Credential Stuffing

Credential Stuffing adalah serangan yang dilakukan dengan menggunakan kombinasi username dan password yang diperoleh dari pelanggaran data yang terjadi sebelumnya. Penyerang mencoba kombinasi ini pada berbagai situs web atau aplikasi lain dengan harapan bahwa pengguna menggunakan kredensial yang sama untuk beberapa akun. Jika berhasil, penyerang dapat mendapatkan akses ke akun-akun tersebut.

Motif dibalik brute force attack

Sumber: Kapersky

Serangan Brute Force Attack dilakukan oleh para penyerang dengan berbagai motif yang mendorong mereka untuk melancarkan serangan tersebut. Berikut adalah beberapa motif yang mungkin menjadi alasan di balik serangan Brute Force:

  1. Mendapatkan Akses Ilegal

Motif yang paling umum adalah mendapatkan akses ilegal ke sistem atau akun yang dilindungi. Dengan menggunakan serangan Brute Force, penyerang dapat mencoba semua kemungkinan kombinasi password atau kunci enkripsi hingga menemukan yang benar. Setelah berhasil mendapatkan akses, mereka dapat melakukan berbagai tindakan yang merugikan, seperti mencuri data, merusak sistem, atau melakukan penipuan.

  1. Mendapatkan Informasi Rahasia 

Penyerang juga dapat menggunakan serangan Brute Force untuk mendapatkan informasi rahasia atau data sensitif. Dalam kasus serangan pada password, mereka dapat mengakses akun pengguna dan mencuri informasi pribadi, seperti nomor kartu kredit, alamat, atau data pribadi lainnya. Informasi ini kemudian dapat digunakan untuk tujuan yang tidak diinginkan, seperti identitas palsu atau penipuan.

  1. Menguji Keamanan Sistem

Beberapa penyerang mungkin melakukan serangan Brute Force untuk menguji keamanan sistem atau aplikasi tertentu. Dengan mencoba semua kemungkinan kombinasi password atau kunci enkripsi, mereka dapat menentukan sejauh mana sistem tersebut dapat bertahan terhadap serangan brute force. Hasil dari serangan ini kemudian dapat digunakan untuk meningkatkan kelemahan yang ada dalam sistem dan meningkatkan keamanannya di masa mendatang.

  1. Melancarkan Serangan Terhadap Orang Lain 

Serangan Brute Force juga dapat dilakukan oleh penyerang dengan motif jahat yang ingin melancarkan serangan terhadap orang lain. Mereka dapat menggunakan hasil dari serangan Brute Force untuk meretas akun orang lain, menyebabkan kerugian finansial atau merusak reputasi mereka. Motif seperti dendam, kecemburuan, atau niat jahat lainnya dapat mendorong penyerang untuk menggunakan serangan Brute Force sebagai alat untuk melancarkan serangan mereka.

Dampak brute force attack

Serangan Brute Force Attack dapat memiliki dampak yang serius terhadap sistem dan informasi yang dilindungi. Berikut ini adalah tiga dampak utama yang dapat timbul akibat serangan ini:

  1. Kehilangan Keamanan Sistem

Salah satu dampak utama dari serangan Brute Force adalah kehilangan keamanan sistem. Jika serangan berhasil, penyerang dapat mendapatkan akses ilegal ke sistem yang dilindungi. Dengan akses ini, mereka dapat merusak sistem, mengubah atau menghapus data, atau mencuri informasi sensitif. Hal ini dapat menyebabkan kerugian finansial, kerugian reputasi, dan ketidakstabilan operasional.

  1. Penyalahgunaan Akun dan Informasi Pribadi

Jika serangan Brute Force berhasil pada akun pengguna, penyerang dapat mengambil alih kontrol penuh atas akun tersebut. Dampaknya termasuk penyalahgunaan akun, pencurian informasi pribadi, dan bahkan tindakan ilegal menggunakan identitas yang diretas. Data sensitif seperti nomor kartu kredit, alamat, atau informasi pribadi lainnya dapat terungkap dan digunakan untuk tujuan yang tidak diinginkan.

  1. Kerugian Finansial dan Hukum

Serangan Brute Force dapat menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Jika penyerang berhasil mendapatkan akses ke sistem keuangan atau informasi kartu kredit, mereka dapat melakukan transaksi yang tidak sah atau mencuri dana. Selain itu, dampak hukum juga dapat terjadi karena serangan Brute Force merupakan tindakan ilegal yang melanggar privasi dan keamanan. Organisasi yang tidak dapat melindungi sistem mereka dari serangan ini dapat menghadapi konsekuensi hukum yang serius.

Cara mencegah brute force attack

Untuk melindungi diri dari serangan ini, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah brute force attack menurut Istasap:

  1. Menggunakan Password yang Kuat

Menggunakan password yang kuat adalah langkah pertama yang penting dalam mencegah serangan Brute Force. Pastikan password yang digunakan terdiri dari kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol. Hindari penggunaan kata-kata yang mudah ditebak, informasi pribadi, atau password yang terlalu pendek. Lebih baik menggunakan frasa yang sulit ditebak namun mudah diingat.

  1. Membatasi Jumlah Percobaan Login

Menerapkan pembatasan percobaan login adalah cara efektif untuk mengurangi risiko serangan Brute Force. Dengan membatasi jumlah percobaan login yang diizinkan, sistem akan memblokir sementara akun atau memerlukan verifikasi tambahan setelah beberapa percobaan gagal. Hal ini mempersulit upaya penyerang untuk menebak password dengan mencoba berbagai kombinasi.

  1. Memantau Alamat IP

Memantau alamat IP yang mencoba melakukan percobaan login yang mencurigakan adalah langkah yang penting dalam mencegah serangan Brute Force. Dengan memonitor alamat IP, Anda dapat mendeteksi aktivitas yang mencurigakan dan memblokir akses dari alamat IP tersebut. Menggunakan layanan keamanan yang menyediakan pemantauan alamat IP dan pelaporan aktivitas mencurigakan dapat membantu meningkatkan keamanan sistem.

  1. Menggunakan Autentikasi Dua Faktor (2FA)

Mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA) pada akun Anda adalah langkah tambahan yang kuat dalam mencegah serangan Brute Force. Dengan menggunakan 2FA, selain memasukkan password, pengguna juga harus memberikan faktor kedua seperti kode yang dihasilkan secara acak melalui aplikasi autentikasi atau kiriman pesan teks. Ini membuat serangan Brute Force menjadi lebih sulit karena penyerang tidak hanya perlu menebak password, tetapi juga harus mendapatkan faktor kedua yang unik.

  1. Menggunakan CAPTCHA

Menggunakan CAPTCHA pada halaman login adalah cara efektif untuk mencegah serangan Brute Force otomatis yang dilakukan oleh bot. CAPTCHA memerlukan pengguna untuk memasukkan teks atau menyelesaikan tugas sederhana sebelum memverifikasi login. Hal ini mencegah serangan otomatis dan mempersulit penyerang dalam melakukan serangan Brute Force.

  1. Menggunakan URL Login yang Unik

Menggunakan URL login yang unik dan tidak umum dapat membantu mencegah serangan Brute Force. Serangan Brute Force sering kali mencoba login pada URL yang umum seperti /admin atau /login. Dengan menggunakan URL login yang tidak umum, penyerang akan kesulitan menemukan halaman login dan mempersulit upaya serangan mereka.

  1. Nonaktifkan Login Root SSH

Nonaktifkan login root SSH pada server adalah langkah penting untuk mencegah serangan Brute Force. Dengan membatasi akses root SSH, penyerang tidak dapat mencoba kombinasi password secara langsung untuk akun root yang memiliki akses penuh ke sistem. Gunakan akun pengguna terbatas dan berikan akses root hanya saat diperlukan.

  1. Menggunakan Web Application Firewalls (WAF)

Menggunakan Web Application Firewalls (WAF) adalah langkah yang efektif untuk melindungi aplikasi web dari serangan Brute Force. WAF dapat mendeteksi dan memblokir percobaan Brute Force dengan menganalisis pola serangan yang mencurigakan. WAF juga dapat mencegah serangan lain seperti serangan SQL injection atau cross-site scripting (XSS).

R17 bantu jaga data perusahaan Anda dari hacker jahat

Di era digital ini keamanan siber adalah hal yang penting bagi perusahaan manapun. Hal ini dikarenakan, serangan siber semakin kompleks dan berbahaya. Tetapi dengan solusi keamanan jaringan dari R17, Anda dapat melindungi bisnis Anda dengan infrastruktur yang handal, sistem keamanan siber berlapis, dan aplikasi yang membantu meningkatkan pelayanan publik serta peningkatan karya BUMN melalui solusi Digital Age Networking, Business Continuity Collaboration & Security, dan Intelligence.

Namun, menemukan solusi keamanan jaringan yang tepat bisa sangat sulit. Dalam lingkungan serba cepat yang sering berubah ini, Anda membutuhkan solusi keamanan jaringan yang tidak hanya aman dan terpercaya, tetapi juga fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda. Itulah mengapa R17 hadir untuk mengatasi masalah keamanan siber Anda. 

Hubungi R17 sekarang dan temukan solusi keamanan jaringan yang tepat untuk bisnis Anda!