Snapshot Eksekutif. Sepanjang 2025, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat rata-rata 182 potensi serangan siber per detik, sementara laporan ancaman distributed denial of service (DDoS) global mencatat 935 serangan di atas 1 Tbps hanya dalam paruh pertama 2026. Sinyal serangan hampir selalu terlihat lebih dulu di jaringan, bukan di alat keamanan, sehingga kualitas Network Operations Center (NOC) menentukan seberapa cepat organisasi menyadari ada yang tidak beres. Uptime Institute mencatat pola yang berlawanan arah: gangguan makin jarang terjadi, tetapi makin mahal dan makin sering dipicu infrastruktur eksternal di luar kendali langsung organisasi. Tiga hal berikut menjadi arah yang masuk akal untuk merespons: visibilitas yang melampaui perimeter, telemetri yang dibagi antara NOC dan Security Operations Center (SOC), serta otomasi yang tetap bertata kelola dan selaras dengan kewajiban pelaporan 3x24 jam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
BSSN mencatat sekitar 5,16 miliar anomali trafik internet nasional sepanjang 2025, setara rata-rata 182 potensi serangan setiap detik. Hampir bersamaan, Cloudflare memitigasi 47,1 juta serangan DDoS secara global, naik 121 persen dari tahun sebelumnya. Keduanya sama-sama pertama kali terlihat sebagai pola lalu lintas jaringan yang janggal, bukan sebagai insiden keamanan yang sudah teridentifikasi.
Uptime Institute melihat sisi lain dari persoalan yang sama. Frekuensi gangguan (outage) per lokasi memang menurun untuk tahun kelima berturut-turut, tetapi laju perbaikannya melambat, dan sekitar satu dari sepuluh organisasi menyebut gangguan terakhir mereka berdampak serius atau parah. Ketersediaan membaik secara statistik, namun biaya setiap kegagalan yang tersisa justru naik.
Di titik pertemuan dua tren inilah NOC kembali relevan sebagai fungsi strategis, bukan sekadar unit pemantauan rutin. Artikel ini menguraikan peran NOC saat ini, isu 2026 yang paling banyak membentuknya, dan arah investasi yang masuk akal berdasarkan data dari sumber yang dapat diverifikasi.
Apa Sebenarnya Peran Network Operations Center (NOC)?
NOC adalah fungsi terpusat yang bertugas memantau, mengelola, dan memulihkan ketersediaan serta performa infrastruktur jaringan secara berkelanjutan, umumnya beroperasi selama 24 jam penuh. Fungsi ini bertanggung jawab memastikan link, perangkat, server, dan layanan cloud senantiasa tersedia dengan latensi dan kapasitas yang sesuai kesepakatan tingkat layanan (service level agreement, SLA).
Cakupan kerja NOC meliputi pemantauan waktu nyata terhadap router, switch, firewall, link WAN dan internet, hingga beban server dan cloud. Begitu gangguan terjadi, tim NOC melakukan triase, eskalasi ke tim teknis atau vendor, dan mengoordinasikan pemulihan sampai layanan normal kembali.
Kinerjanya diukur lewat metrik yang cukup baku di industri: uptime, latensi, utilisasi kapasitas, dan mean time to repair (MTTR). Di lapangan, tim NOC biasanya bekerja dengan sistem manajemen jaringan berbasis SNMP dan NetFlow, platform IT service management (ITSM) untuk tiket dan eskalasi, serta dasbor dan mekanisme peringatan yang berjalan terus-menerus.
Perbedaan dengan SOC ada pada pertanyaan yang diajukan masing-masing tim. NOC bertanya apakah sistem berjalan sebagaimana mestinya sedangkan SOC bertanya apakah sistem sedang diserang. Pada 2026, dua pertanyaan itu semakin sering berujung pada jawaban yang sama.
Mengapa Isu Ketersediaan Jaringan Justru Semakin Krusial pada 2026?
Laporan tahunan Uptime Institute 2026 mencatat frekuensi gangguan menurun, tetapi gangguan yang tetap terjadi berbiaya lebih tinggi, lebih sering bersumber dari infrastruktur eksternal, dan gangguan terkait serat optik atau konektivitas cenderung berlangsung lebih lama. Ironisnya, asesmen resiliensi di banyak organisasi masih lebih menyoroti sistem internal ketimbang dependensi eksternal ini.
Data biaya memperkuat gambaran tersebut. Lebih dari separuh (57 persen) responden survei Uptime 2025 menyebut gangguan besar terakhir mereka menelan biaya di atas 100.000 dolar AS, dan untuk tahun kedua berturut-turut, satu dari lima responden melaporkan biaya di atas 1 juta dolar AS. Kegagalan daya seperti UPS, transfer switch, dan generator tetap jadi penyebab utama, sementara tekanan jaringan listrik dan beban kerja berdensitas tinggi memunculkan titik rawan baru.
Indonesia menambahkan dimensi geografis pada persoalan ini. Pada Mei hingga Juni 2026, putusnya kabel serat optik bawah laut memutus akses internet di Kepulauan Sangihe dan Sitaro, Sulawesi Utara. Target restorasi yang semula awal Juni molor hingga 6 Juni 2026 dan dikawal langsung oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sementara operator kabel laut nasional menyiagakan patroli di 31 titik jalur pelayaran untuk menekan risiko jangkar kapal.
Bagi NOC, implikasinya terlihat jelas. Pemantauan tidak bisa lagi berhenti di perimeter organisasi sendiri. Ketergantungan pada penyedia cloud, jalur serat optik, dan pemasok daya perlu dipetakan dan dipantau sebagai bagian dari peta risiko jaringan, bukan diperlakukan sebagai faktor eksternal yang dianggap di luar kendali.
Bagaimana Serangan Volumetrik Mengubah Beban Kerja NOC?
Serangan DDoS berskala besar muncul jauh lebih sering dan lebih besar dibanding sebelumnya, dan NOC biasanya jadi pihak pertama yang melihat gejalanya sebagai lonjakan kapasitas yang tidak wajar. Data Cloudflare untuk paruh pertama 2026 mencatat 935 serangan lapisan jaringan di atas 1 Tbps, dengan lonjakan 519 persen antara kuartal pertama dan kedua.
Skala keseluruhannya pun ikut naik. Cloudflare memitigasi 13,17 juta serangan DDoS lapisan jaringan pada kuartal kedua 2026, dibandingkan 10,04 juta pada kuartal sebelumnya, dengan vektor refleksi DNS dan CLDAP mendominasi gelombang ini. Serangan CLDAP sendiri melonjak 580 persen hanya dalam satu kuartal. Rekor serangan terbesar yang pernah diumumkan secara publik, 31,4 Tbps pada Desember 2025, bahkan hanya berlangsung 35 detik.
Yang patut dicermati bagi sektor publik adalah pergeseran targetnya, peringkat sektor pemerintahan sebagai target permintaan HTTP DDoS melonjak dari posisi ke-29 pada kuartal pertama menjadi posisi ke-9 pada kuartal kedua 2026, sejalan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Serangan berdurasi puluhan detik dengan volume puluhan terabit jelas tidak bisa ditangani lewat eskalasi manual. Konsekuensinya cukup jelas, perlindungan DDoS harus sudah bekerja sebelum trafik jahat mencapai sistem, bukan menunggu konfirmasi manusia terlebih dahulu. Runbook NOC yang masih mensyaratkan persetujuan manual sebelum mitigasi berjalan perlu dikaji ulang.
Apa yang Ditunjukkan Data BSSN tentang Anomali Trafik Nasional?
Data BSSN memperlihatkan volume anomali yang terus melonjak dan sebagian besar bermuatan potensi malware, sementara kapasitas pemantauan nasional masih jauh dari memadai. Sepanjang 2025 tercatat sekitar 5,16 miliar anomali trafik, dan 93,78 persen di antaranya terkait potensi malware yang lazimnya berkembang menjadi ransomware bila dibiarkan.
Tren 2026 belum menunjukkan tanda perlambatan. Dalam periode 1 Januari hingga 15 April 2026 saja, BSSN sudah mengidentifikasi 1,5 miliar anomali trafik, dan total anomali sepanjang 2025 disebut sudah melampaui akumulasi lima tahun sebelumnya, 2020 hingga 2024. BSSN menegaskan anomali trafik belum tentu serangan, melainkan berpotensi menjadi serangan. Klasifikasi sebenarnya (compromise, attempt, fail) baru diketahui setelah dianalisis lebih lanjut.
Kapasitas pemantauan nasional juga masih menyisakan pekerjaan rumah besar. BSSN menyebut cakupan pemantauan trafik internet nasionalnya belum mencapai 10 persen dari total trafik di Indonesia, dengan target baru 30 hingga 50 persen pada 2028 atau 2029. Tingkat respons terhadap notifikasi kerawanan pun belum sempurna. Dari 2.855 notifikasi yang dikirim BSSN pada 2025, 2.186 mendapat respons hingga pertengahan April 2026, angkanya 776 dari 1.002 notifikasi.
Bagi organisasi, kedua angka itu punya satu implikasi praktis yakni pemantauan nasional bersifat pelengkap, bukan pengganti visibilitas internal. Anomali trafik justru persis jenis sinyal yang pertama kali muncul di NOC, baik berupa pola komunikasi tak lazim, lonjakan akses mendadak, maupun trafik keluar ke tujuan yang tidak dikenal. Kesiapan NOC menerima, memverifikasi, dan menindaklanjuti notifikasi eksternal semacam ini sudah selayaknya menjadi bagian dari postur keamanan, bukan sekadar rutinitas operasional.
Mengapa Batas Antara NOC dan SOC Semakin Kabur?
Gejala yang dilihat kedua fungsi ini semakin tumpang tindih. Penurunan performa jaringan bisa jadi gejala serangan, sementara insiden keamanan tak jarang justru berakar pada perangkat jaringan yang salah konfigurasi. Gartner, sebagaimana dikutip TechRepublic, memperkirakan 75 persen organisasi dengan lingkungan teknologi operasional (OT) akan menggabungkan fungsi NOC dan SOC pada 2026.
Sejumlah pengamat industri menyebut kecerdasan buatan sebagai pendorong utama penggabungan ini menjadi fusion center. Tim NOC memperoleh konteks keamanan yang lebih dalam atas seluruh aset yang mereka pantau, sementara SOC memperoleh deteksi anomali yang lebih akurat karena telemetri jaringan ikut dianalisis.
Dua celah struktural yang kerap dibahas di forum keamanan siber nasional turut memperkuat alasan konvergensi ini. Pertemuan sistem OT dengan TI yang membuka celah baru pada sistem kendali industri, dan alert fatigue akibat terlalu banyak peringatan dari alat yang tidak saling terhubung. Solusinya bukan menambah alat, melainkan mengintegrasikan yang sudah ada dan memberinya konteks yang lebih utuh.
Secara praktis, konvergensi semacam ini biasanya dimulai dari tiga hal: sumber telemetri bersama (data aliran, paket, dan log), proses triase bersama dengan prioritas yang sudah disepakati, serta satu platform ITSM sehingga tiket jaringan dan tiket keamanan tidak lagi berjalan di dua jalur yang saling buta.
Sejauh Mana Otomasi dan AI Mengubah Operasi NOC?
Otomasi bergerak dari sekadar aktivitas tambahan menjadi standar operasi. Gartner memproyeksikan 30 persen perusahaan akan mengotomasi lebih dari separuh aktivitas jaringannya pada 2026, naik tajam dari kurang dari 10 persen pada pertengahan 2023, dan separuh perusahaan sudah menggunakan AI untuk mengotomasi operasi jaringan harian (day-2 operations).
Proyeksi jangka menengahnya lebih jauh lagi. Dalam Predicts 2026, Gartner memperkirakan 70 persen perusahaan akan menerapkan agen AI otonom (agentic AI) untuk mengoperasikan infrastruktur TI pada 2029, dibandingkan kurang dari 5 persen pada 2025. Peran tim operasi pun bergeser dari mengerjakan tugas menjadi mengawasi agen yang mengerjakannya, dengan nilai tertinggi ada pada orang yang mampu melatih, mengatur, dan menangani pengecualian yang rumit.
Temuan Uptime Institute sejalan dengan arah ini. Operator mengalihkan biaya ke otomasi dan sistem kendali untuk mengelola kompleksitas yang terus bertambah. Namun otomasi tanpa tata kelola memadai hanya memindahkan risiko ke tempat lain. Setiap tindakan otomatis di jaringan produksi tetap memerlukan validasi sebelum dan sesudah eksekusi, jejak audit yang lengkap, serta mekanisme rollback, baik dipicu manusia maupun AI.
Bagaimana Regulasi Indonesia Membingkai Kewajiban Operasi Jaringan?
Kerangka regulasi mengaitkan ketersediaan sistem dengan kewajiban hukum yang terukur waktu. UU PDP mewajibkan pemberitahuan kegagalan pelindungan data dalam 3x24 jam, sementara Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE) mewajibkan penyelenggara sistem elektronik menjaga keamanan dan keandalan sistemnya.
Kewajiban 3x24 jam itu hanya bisa dipenuhi jika insiden terdeteksi cepat, dan deteksi cepat sering kali bermula dari anomali jaringan yang lebih dulu tertangkap NOC. Waktu deteksi dan MTTR pun bukan lagi sekadar metrik operasional, melainkan sudah jadi variabel kepatuhan.
Lapisan regulasi berikutnya sedang disiapkan. Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) masuk Program Legislasi Nasional Prioritas 2026, disampaikan Presiden ke DPR lewat surat presiden tertanggal 9 Februari 2026, dan sejak 29 Juni 2026 dibahas Panitia Kerja Komisi I DPR bersama pemerintah. RUU ini memuat sepuluh substansi, di antaranya kewajiban penyelenggaraan infrastruktur informasi, audit teknis insiden siber, sanksi administratif, dan ketentuan pidana.
Jika disahkan, kewajiban audit teknis insiden akan menuntut jejak data operasional yang meliputi dengan lengkap seperti siapa mengubah konfigurasi apa, kapan anomali pertama kali terlihat, dan bagaimana eskalasinya berjalan. Semua data itu lahir di NOC.
Ke Mana Arah Investasi NOC yang Masuk Akal pada 2026?
Terdapat 3 prioritas utama yakni visibilitas yang melampaui perimeter, telemetri yang dibagi dengan SOC, dan otomasi yang tetap bertata kelola. Data dari Uptime, Cloudflare, BSSN, dan Gartner mengarah pada kesimpulan yang konsisten. Gangguan dan serangan sama-sama terlihat lebih dulu di jaringan, sehingga kualitas NOC pada akhirnya menentukan seberapa cepat organisasi menyadari ada masalah.
Enam langkah berikut bisa menjadi kerangka evaluasi awal:
- Memetakan dependensi eksternal, seperti penyedia cloud, jalur serat optik, dan pasokan daya, sebagai objek pemantauan aktif, bukan sekadar asumsi.
- Menyatukan sumber telemetri NOC dan SOC agar anomali performa dan anomali keamanan bisa dikorelasikan dalam satu tampilan.
- Menyiapkan kapasitas mitigasi volumetrik di muka dan menghapus langkah persetujuan manual dari runbook DDoS.
- Menetapkan prosedur penerimaan dan tindak lanjut notifikasi eksternal, termasuk dari BSSN, dengan pemilik yang jelas.
- Mengotomasi operasi harian secara bertahap, disertai validasi, jejak audit, dan mekanisme rollback pada setiap perubahan.
- Menyelaraskan target waktu deteksi dan MTTR dengan kewajiban pelaporan 3x24 jam UU PDP.
Soal model penyelenggaraan, apakah dikelola sendiri, lewat managed services, atau hybrid, pada akhirnya kembali ke satu pertanyaan praktis. Apakah organisasi mampu mempertahankan cakupan 24 jam dengan kompetensi yang memadai.
Bagaimana R17 Kelola Mendukung Konvergensi NOC dan SOC?
R17 Kelola berpendapat bahwa NOC dan SOC sebagai satu kesatuan pertahanan operasional, bukan dua fungsi yang berjalan sendiri-sendiri dengan alat dan tim yang tidak saling terhubung. Pendekatannya mencakup penilaian celah visibilitas jaringan, perancangan integrasi telemetri NOC dan SOC, hingga penyusunan tata kelola otomasi yang dapat diaudit sebelum diterapkan pada infrastruktur produksi.
Dengan pengalaman mendampingi sektor pemerintahan, pertahanan, BUMN, dan jasa keuangan, R17 Kelola memahami bahwa tantangan konvergensi NOC-SOC jarang terletak pada pemilihan platform, melainkan pada penyatuan sumber telemetri yang selama ini terpisah, penyelarasan proses triase antartim, dan pembangunan kapabilitas sumber daya manusia yang mampu mengawasi otomasi dan agen AI secara bertanggung jawab. Percakapan bisa dimulai dari satu pertanyaan sederhana yaitu ketika anomali berikutnya muncul di jaringan, siapa yang melihatnya lebih dulu, dan seberapa cepat organisasi mengetahuinya.
Pelajari lebih lanjut di r17kelola.co.id.
Daftar Sumber
- ANTARA News. (6 Agustus 2026). "BSSN catat 182 potensi serangan siber tiap detik lewat internet." antaranews.com
- Infobank News. (8 Mei 2026). "BSSN Ungkap 5,2 Miliar Anomali Trafik Internet, Mayoritas Berpotensi Jadi Ransomware." infobanknews.com
- Infonasional, mengutip Detik iNET. (23 April 2026). "BSSN Identifikasi 1,5 Miliar Anomali Trafik Internet Hingga April 2026." infonasional.com
- Uptime Institute. (13 Mei 2026). "Uptime Announces Annual Outage Analysis Report 2026." uptimeinstitute.com
- Uptime Intelligence. (2026). "Annual Outage Analysis 2026" (ringkasan eksekutif). intelligence.uptimeinstitute.com
- Cloudflare. (11 Agustus 2026). "Cloudflare DDoS Threat Report H1 2026." blog.cloudflare.com
- Cloudflare. (2026). "Introducing the 2026 Cloudflare Threat Report." blog.cloudflare.com
- TechRepublic. (12 Agustus 2026). "Cloudflare Reports Massive Spike in High-Volume DDoS Attacks." techrepublic.com
- Gartner. (18 September 2024). "Gartner Says 30% of Enterprises Will Automate More Than Half of Their Network Activities by 2026." gartner.com
- Gartner. (4 Desember 2025). "Predicts 2026: AI Agents Will Transform IT Infrastructure and Operations." gartner.com
- Red River, mengutip TechRepublic dan Gartner. (17 Juni 2025). "Should You Merge Your SOC and NOC into a SNOC?" redriver.com
- Splunk. (7 Januari 2026). "2026 Prediction: AI Will Merge the NOC and SOC." splunk.com
- ANTARA News. (29 Juni 2026). "Pemerintah dan DPR bentuk panja RUU Keamanan dan Ketahanan Siber." antaranews.com
- Detik News. (29 Juni 2026). "Komisi I DPR Serahkan DIM RUU Keamanan dan Ketahanan Siber ke Pemerintah." news.detik.com
- CNBC Indonesia. (5 Juni 2026). "Internet Putus, Ternyata Sumbernya di Dasar Laut di Ujung RI." cnbcindonesia.com
- Detik iNET. (21 Januari 2026). "Ancaman Kabel Bawah Laut Putus Ganggu Internet, Ini Mitigasi Operator." inet.detik.com
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, Pasal 46.
- Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.